Obesitas sebagai Komorbid Covid-19
Beranda > Artikel > Obesitas sebagai Komorbid Covid-19
bg-artikle

Ketetapan Work From Home (WFH) selama masa pandemi Covid-19, membuat banyak orang kurang bergerak, sehingga dapat memicu berat badan naik atau yang lebih parah obesitas. Obesitas (kegemukan) merupakan salah satu parameter dari antropometri, yaitu pengukuran yang dilakukan untuk menilai status gizi seseorang, data yang digunakan ialah dari berat dan tinggi badan. Status gizi seseorang dapat di interpretasikan dengan beberapa parameter yang paling simple sederhana dan umum digunakan ialah IMT. IMT diklasifikasikan menjadi beberapa interval nilai, antara lain underweight, normal dan overweight (obesitas). Seseorang dapat dikatakan obesitas apabila skor IMT diatas 25.

C:\Users\ASUS\Downloads\IMT.png

Obesitas merupakan salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi Coronavirus disease atau COVID-19 derajat berat atau bahkan kematian. Sejumlah studi telah dilakukan untuk mencari macam-macam faktor risiko yang berkaitan dengan mortalitas pasien Covid-19, salah satu faktor tersebut ialah obesitas. Serta obesitas juga sebagai faktor komorbid dan menjadi salah satu penyumbang kematian dampak Covid-19.

Sejalan dengan Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Jember, dr. Adelia Handoko, M. Si, Penelitian masih dilakukan tetapi beberapa ada yang sudah mulai di publikasi. Obesitas itu yang berlebihan adalah sel lemaknya, sedangkan sel lemak akan memproduksi sitokin-sitokin pro inflamasi, inflamasi pada tubuh ini jika pada orang-orang yang sebelumya sudah punya riwayat sakit artinya tidak hanya covid, punya penyakit apapun sebelumnya, apabila memiliki obesitas pasti akan memperberat penyakitnya, karena jika ada proses peradangan pada orang yang obesitas maka peradangan tersebut akan lebih berat. Umumnya pada pasien covid , kalau peradangan berat dengan jumlah sitokin yang banyak dalam tubuh yang biasa disebut dengan badai sitokin, jadi produksi sitokin yg berlebihan dalam jumlah banyak secara bersamaan, nah itu yang sekarang ditakutkan pada covid 19, karena harapannya dengan kita menghambat sitokin kita punya buying time, punya waktu tambahan untuk meredakan inflamasi yang ada terlebih dahulu. selain karena sitokin juga, obesitas seperti yang kita ketahui, apabila sudah dalam waktu lama, bisa jadi obesitas tersebut merupakan faktor resiko lain dari penyakit diabetes dan hipertensi, yangmana diabetes dan hipertensi merupakan kontribusi utama juga pada keparahan dari covid 19 .

Faktor resiko dari obesitas bisa dikatakan multifaktorial, Seperti yang dikatakan Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Jember, dr. Adelia Handoko, M. Si, ketika kita membicarakan obesitas berarti kita juga membicarakan keseimbangan energi, bisa terjadi karena inputnya yang berlebihan atau outputnya yang kurang. Jika input kita banyak dan menjaga agar berat badan ideal atau energy expenditure dalam jumlah normal, berarti kita harus meningkatkan output, jika input meningkat berarti asupan makan meningkat. Dan setiap orang mempunyai mekanisme koping yang berbeda dalam menghadapai stress, di pandemi ada yang koping stress dengan makan, ada juga yang merasa jumlah makan sudah cukup tetapi yang tidak diperhatikan adalah jenis dari makanan tersebut .

Apabila kita sudah merasa diri kita mengalami obesitas, yang harus kita lakukan adalah
assessment, jadi dilihat dan dipastikan apakah kita sudah terkena obesitas atau tidak. Kemudian Heart Related Disease , dipantau kaitan penyakit yang berhubungan dengan obesitas, biasanya ada keluhan lutut dan persendian karena beban berlebih. Setelah itu kita lakukan planning, yang pertama nutrisi, jadi konsep awal input harus lebih sedikit oleh sebab itu kita harus mengatr pola makan sesuai dengan kebutuhan minimal. Kemudian output bisa ditingkatkan dengan berolahraga seperti jalan kaki, berenang dan sepeda statis. Bisa juga dilakukan kombinasi olahraga antara endurance dan aerobik untuk kekuatan otot dan meningkatkan kekuatan jantung dan paru-paru.

Obesitas bisa menyerang siapapun dan tak pandang bulu. Obesitas dapat dicegah ketika seseorang mampu menyeimbangkan asupan kalori yang masuk kedalam tubuh dan kalori yang dikeluarkan oleh tubuh. Jangan jadikan masa pandemi sebagai alasan buat bermalas-malasan, banyak sekali aktivitas fisik seperti olahraga tidak melulu harus keluar rumah, tetapi bisa pula dilakukan di dalam rumah. tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan berupa 5M demi mencegah tertular COVID-19, dan bagi yg belum vaksin jangan ragu untuk segera divaksin karena nanti akan di-screening terlebih dahulu.

Stay Safe and Stay Healthy!

Penulis,

Ja far Shodiq

Kelompok 22

Relawan Tim TDKB COVID-19 UNEJ 2021 Batch 2

dr. Adelia Handoko, M. Si.

Terbit tanggal 10 Januari 2022
Covid
Bagikan ke lainnya

Artikel Lainnya
  • Judul Artikel
    Pembaruan Sistem Pelayanan pada UPT Perpustakaan UNEJ di Era Pandemi Covid-19

    2 Juli 2021

    Baca Artikel
  • Judul Artikel
    Kondisi Perekonomian Usaha Kesehatan di Tengah Pandemi

    25 Desember 2021

    Baca Artikel
  • Judul Artikel
    Fakta dan Mitos Seputar Kesehatan Selama Pandemi Antibiotik dan Pengobatan Rumahan Bisa Membunuh Virus Corona ?

    20 Januari 2022

    Baca Artikel
  • Judul Artikel
    Relawan Tim TDKB Covid-19 Lakukan Visitasi Rutin di RSGM Universitas Jember

    8 Juni 2021

    Baca Artikel
  • Judul Artikel
    Visitasi Gedung CDAST oleh Relawan Tim TDKB COVID-19 dalam Upaya Pemutusan Rantai Virus COVID-19

    8 Juni 2021

    Baca Artikel
  • Judul Artikel
    Relawan Tim TDKB COVID-19 Lakukan Visitasi di Gedung Biro Akademik Kemahasiswaan dan Alumni

    8 Juni 2021

    Baca Artikel
  • Judul Artikel
    Relawan Tim TDKB COVID-19 Batch 1 Tahun 2021 Lakukan Visitasi Rutin di Fakultas Hukum Universitas Jember

    15 Juni 2021

    Baca Artikel
  • Judul Artikel
    Cek Kelengkapan Protokol Kesehatan Agrotechno Park Universitas Jember, Relawan Tim TDKB COVID-19 UNEJ Lakukan Visitasi Rutin

    29 Juni 2021

    Baca Artikel